Sabtu, 29 Agustus 2020

KEMARAHAN RATU KASTOBA By. Misfar Andika

 


“Energinya sangat kuat! penerawanganku tidak bisa melihat pusaka itu dan juga siapa penunggunya.” Amal menjelaskan penerawangannya.  “Aku coba ngerahin seluruh kekuatan dan energi yang aku punya, tapi yang aku lihat hanya sebatas bayang-bayang kabut, seakan terhalangi oleh sebuah tabir yang sangat kuat.” Tutur Amal setelah selesai penerawangannya. Aku  kembali mencoba menjelaskan dan memberi saran padanya. “Mal, kalau memang sekiranya kita merasa tidak sanggup, lebih baik jangan dipaksakan, demi keamanan kita semua.” Ujarku menasehati Amal.  “Lepasin sajalah... anggap saja ini bukan rezeki kita, dari pada terjadi apa-apa sama kita? dan mumpung Pak Sarkawi juga belum ngirim uangnya sama kita.” Lanjutku lagi. “Gimana Bray, bener gak?” tanyaku kepada Zain dan Amal. Tapi  Amal menolak mentah-mentah semua saran yang kuberikan, sedangkan Zain Cuma diam saja.

“Tapi Dik, uang sebesar itu kapan lagi bisa kita dapatkan?” Amal benar-benar tergiur dengan tawaran Pak Sarkawi. “Kan kamu tahu sendiri, paling besar orderan kita berapa duit saja sih? Cuma Sepuluh Juta! Itu pun jarang-jarang kita dapat orderan yang segitu.” Amal sedikit membentak untuk meyakinkanku.

“Selama ini dan sampai detik ini, aku gak pernah gagal dalam menarik pusaka. Mau raja jin atau setan dedemit kayak gimana juga bisa aku hadapin dan bahkan ku taklukin, baik secara tempur atau barter. Aku yakin kita pasti mampu Dik. Pokoknya kamu tenang saja, kita pasti bisa” Amal optimis dengan kemampuannya.

Karna Terus menerus nyerocos tanpa henti tentang ke optimisannya, Ia terlihat seperti mengedepankan egonya saja. Ditambah lagi dia bilang, dengan bahan-bahan ritual yang lengkap dan dengan nomor wahid(satu) yang nantinya akan kita gunakan, jauh kemungkinannya dari kata gagal. Intinya Amal tidak ingin mundur dan tetap menerima job kakap ini. “Ya sudah kita nurut aja...” Aku dan Zain hanya bisa mengikuti kemauannya. “Mau bagaimana lagi, Wong dianya yang punya perhitungan dan kemampuan”. Batinku bergumam.

Beberapa hari kemudian!

Diterik siang Aku, Zain, dan Amal sudah berkeliling belanja bahan-bahan untuk keperluan ritual tarik pusaka nanti malam menggunakan dua motor operasional kami. Uang sebesar dua juta pun sudah kami tarik di ATM dan sudah hampir habis kami belanjakan. Tinggal sisa untuk beli bensin motor-motor kami saja. sedangkan uang bonus sebesar dua puluh lima juta pemberian dari Pak Sarkawi tetap masih utuh di saldo rekening kami, tidak kami ambil. Pantang bagi kami untuk memakainya selama tugas belum selesai, walaupun itu uang pemberian secara Cuma-cuma, bukan termasuk uang jasa kerja.

Selesai belanja, Amal pun memintaku untuk langsung mengemudikan motor menuju arah Paromaan, rumah Kakeknya. Lalu tak ku sangka bahwa Kakeknya Amal ingin ikut dan membatu kami untuk menarik pusaka nanti malam dan menyelesaikan tugas besar ini. Ada sedikit rasa tenang yang menyelimuti hatiku sekarang, karena akhirnya ada sebuah bala bantuan yang kami dapat, yaitu dari Kakeknya Amal yang notabenenya adalah seorang paranormal ternama dan tentunya lebih hebat dari Amal, cucunya.

Dari paromaan kami langsung tancap gas kearah barat menuju Dusun Candi, karena lokasi yang ditentukan berada disana. Tapi bukan pada dusunnya, melaikan Telaga yang ada diatas gunung, yaitu sebuah Danau yang kata Pak Sarkawi adalah “Danau Kastoba”, dan Pak Sarkawi telah menunggu di jalan menuju Telaga. Dari jalan raya kami pun berbelok ke sebuah jalan kecil yang belum di aspal, dan terus mengikuti jalan tanah tersebut yang kanan kirinya diapit oleh pohon-pohon jati yang tinggi dan besar. dari jauh lampu motor kami menyorotkan sinarnya ke beberapa motor gunung yang sudah terparkir didepan sana.

Ternyata motor-motor itu milik Pak Sarkawi dan para Bodyguarnya yang jumlahnya hampir sepuluh orang dan mengenakan setelan safari hitam-hitam. Setelah sampai tujuan dan ku parkirkan motor tidak jauh disamping motor Amal, Segera kami pun turun dari atas motor. Pak Sarkawi langsung mendatangi dan menyapa kami hangat. Tanpa banyak basa-basi Pak Sarkawi segera mengajak kami semua untuk langsung mengikuti dia, naik keatas gunung dengan berjalan kaki dengan meninggalkan motor kita semua di pinggir jalan perkebunan itu. Dengan dibantu beberapa Bodyguard-nya, kami membawa segala peralatan dan bahan ritual dari dalam jok motor kami. Sebagian Bodyguard menerangi jalan kami dengan lampu senter di tangannya.

Pak Sarkawi berjalan paling depan ditemani Kakeknya Amal sambil bercakap-cakap. Setengah jam mendaki akhirnya sampai juga kami di lokasi penarikan pusaka yang tanahnya agak lapang, dan terlihat pula telaga yang jernih mementalkan cahaya rembulan menerangi malam kami. Jam ku lihat sudah menunjukkan pukul 00:05 Wib dini hari. Berarti penarikan pusaka bisa langsung dilaksanakan. Lalu kami bertiga pun segera memasang alat-alat dan bahan ritual. Sebuah kain mori putih besar berbentuk segi empat mulai dibentangkan di depan kami, di ujung empat sisi kain itu ditancapkan dupa yang telah ditempeli madat nomor wahid.

Lalu di sebelah depan kain mori itu ditaruh satu buah kelapa hijau yang sudah kami kupas ujung-ujungnya. Persiapan pun sudah siap!!! Lampu-lampu senter pun dimatikan semua. Dupa yang telah ditempeli madat pun segera dibakar. Tak lama kemudian semerbak aroma harum menyengat dari dupa dan madat pun mulai tercium santer, menambah suasana mistis di tempat kami berada. Aku dan Zain segera mundur ke belakang, sejajar dengan Pak Sarkawi dan para Bodyguardnya. Hingga hanya tinggal Amal dan Kakeknya yang berada paling depan, di belakang altar kain mori tersebut. Kakeknya Amal segera mengeluarkan bungkusan kain berwarna hitam yang tadi diberikan oleh Pak Sarkawi kepadanya, sewaktu berjalan mendaki gunung ini, yang ternyata bungkusan itu berisi segumpal tanah berwarna coklat kehitaman dan segera menaburkannya di atas kain mori putih tersebut, di ikuti oleh taburan kembang tujuh rupa, dan terakhir disiram oleh minyak-minyak khusus ritual yang kami bawa. Selanjutnya Amal dan Kakeknya langsung memotong leher sepasang ayam cemani di atas kain mori itu. Sehingga telihat darah-darah berwarna hitam pekat berceceran mengguyur tumpukan tanah dan kembang diatas kain mori itu. Tak lama kemudian bangkai-bangkai ayam cemani itu dilemparkan jauh-jauh kedalam air telaga oleh mereka berdua. Lalu mereka berdua pun duduk bersila dengan tangan bersidekap di depan dada mirip orang yang sedang bertapa. Duduk hening dan diam.

Sudah hampir satu jam. Posisi mereka berdua pun sudah mulai berubah. Amal tetap duduk bersilah dan bersidekap sambil sesekali tangannya bergerak maju mundur seperti orang yang sedang menarik sesuatu. Sedangkan Kakeknya sudah dalam posisi berdiri dan bergerak ke sana ke mari seperti orang yang sedang silat dan selalu di akhiri dengan gerakan tangan seperti menarik sesuatu pula, sama dengan yang dilakukan Amal. Satu jam pun sudah berlalu, tiba-tiba Amal dan Kakeknya mengeluarkan gerakan yang sama dan seirama secara bebarengan, yaitu sama menggerebak tanah di bawahnya. Amal menggunakan tangannya sedangkan Kakeknya menggunakan satu kakinya. Lalu mereka berdua mengusap muka mereka masing-masing dengan tangannya. Amal pun bangkit berdiri, lalu mereka berdua berjalan ke belakang mendekati kami semua.

“Tunggu saja... sebentar lagi keluar. Kita lihat saja!” ujar Kakeknya Amal kepada Pak Sarkawi.

Suasana hening beberapa saat, hingga tiba-tiba...

DBHUAARRRRRRRRR!!!
DHESSSSSHHH!!
BRRRRRRR!

Kami dikejutkan oleh sebuah ledakan yang cukup besar seperti suara petir menggelegar dari tengah danau, di iringi dengan percikan air yang juga sangat besar menyertainya. Bebarengan dengan suara ledakan itu, keluar pula sebuah benda yang besar dan panjang serta merah menyala yang meluncur dengan cepat kearah kami, dan menancap di tengah-tengah altar kain mori itu. Sehingga karuan saja tumpukan tanah dan kembang yang berada di atasnya juga kelapa hijau di depannya berhamburan tak tentu arah.

Terlihat dari jauh tempat kami berada, benda besar dan panjang yang menancap itu masih menyalah merah dan mengepulkan asap tipis, pertanda masih panas membara akibat dari gesekan antar Dimensi. Kami pun belum berani mendekatinya. Setelah beberapa saat kemudian, warna yang tadinya merah menyalah, perlahan-lahan mulai meredup dan berubah menjadi warna kekuning-kuningan disertai mengkilap karena pantulan cahaya rembulan. Segera Amal dan Kakeknya berjalan pelan mendekati benda yang menancap di tanah itu, diikuti Pak Sarkawi beserta para Bodyguardnya dibelakang. Sedangkan aku dan Zain tetap diam ditempat, dan melihat dari kejauhan saja.

Dengan susah payah, Amal dan Kakeknya berusaha untuk mencabut benda itu dari tanah, dan... brekkk.. srekkk... pusaka itu akhirnya tercabut juga dari tanah, yang segera diangkat dan dibopong oleh mereka berdua dan diserahkan pada Pak Sarkawi dan sebagian dipegangi oleh Bodyguardnya.

“Wkwkwkwkwkwkwk! Akhirnya dapat juga!” serunya sambil tertawa puas.
“Ternyata pusaka ini bukan hanya legenda omong kosong belaka, tapi memang benar adanya. Wkwkwkwk...” kembali Pak Sarkawi tertawa girang.

Ternyata benda pusaka itu adalah sejenis tongkat  trisula bermata tiga yang mugkin terbuat dari emas, karena warnanya begitu kuning dan berkilauan walau hanya dengan cahaya bulan, apalagi terkena sorotan lampu senter. Melihat ukuran panjang dan besarnya, aku memikirkan beratnya bisa mencapai dua puluh kiloan. Dan jika memang benar pusaka itu terbuat dari emas, maka bila dijual bisa jadi uang puluhan milyar! Waow! Pantas saja beliau berani membayar kami segitu. Wong dianya bisa dapat untung berpuluh-puluh kali lipat.

“Hmmm... licik juga . Menang banyak dia...” gumanku sinis dalam hati.

“HEBAT HEBAT!!! Kalian memang HEBAT!!! Tidak sia-sia saya meminta jasa dari dan kemampuan kalian, wkwkwk...” Pak Sarkawi memuji. “Lain kali, saya akan mengguanakan jasa kalian lagi yah? Wkwkwk” Timpalnya lagi. Sementara Amal dan Kakeknya hanya bisa senyum-senyum karna di puji seperti itu.

“Nah, oke... sekarang tinggal bagian saya yang akan menepati janji saya pada kalian! Ayo... Mari kita langsung pulang dan langsung menuju rumah saya. Saya akan membuatkan chack tunai sebesar Satu Milyar Rupiah yang saya janjikan pada kalian, beserta surat kuasa untuk pencairannya ke bank, Mari!” Ajaknya kepada kami sambil masih menimbang-nimbang dan mengelus Tongkat Trisula berwarna emas itu yang sebagian gagangnya dipegang oleh Bodyguardnya. Aku dan Zain pun gembira sekali mendengarnya, karena sebentar lagi kami akan mendapat uang Satu Milyar Rupiah. “Waow... mimpi apa aku semalam?” Celotehku dalam hati. Baru saja kami berbalik badan dan ingin melangkah pergi dari dalam telaga itu, tiba-tiba!

WHRSSSSSHHH!!!

Segulung angin yang begitu kencang datang dari belakang, saking kencangnya angin itu, membuat kami jadi sempoyongan dan mencoba untuk terus mempertahankan keseimbangan. Setelah angin kencang itu berhenti, tampak dari arah kejauhan di tengah danau itu, terlihat dua titik sinar merah dikegelapan yang makin lama makin bertambah dekat diiringi suara gemuruh berisik air meluap. Kami pun panik, tapi seperti terpaku  seakan penasaran apa sebenarnya gerangan yang mendatangi kami itu.

Hingga tak lama kemudian terlihatlah sosok yang medatangi kami, tepat didepan kami berada saat ini sedang berdiri sosok perempuan berbadan ular raksasa yang menjulang tinggi hampir sepuluh meter. Bermata merah menyala seakan menatap dengan penuh amarah kepada kami. Terlihat pula sepasang taring di sela-sela bibirnya dan sosok perempuan berbadan ular itu juga mengenakan sebuah mahkota diatas kepalanya. Rambut yang panjang terurai kedepan menutupi bagian dadanya.

“DASAR PENCURI KALIAN! KEMBALIKAN TONGKATKU!!!” bentaknya kepada kami sambil menunjukkan kami semua dengan tangannya yang berkuku runcing tajam dan diiringi suara mendesis, khas suara Ular. Tiba-tiba Kakeknya Amal pun berlutut dan bersimpuh di depan siluman itu. “Ampun NYI RATU.... kami tidak tahu kalau tongkat itu kepunyaan RATU...” Lirihnya “kami hanya disuruh oleh orang-orang ini!” Lirihnya lagi seraya menunjuk pada Pak Sarkawi dan para Bodyguarnya. “Sekali lagi, kami mohon ampun RATU.” Pintanya memohon belas kasihan kepada sosok perempuan mengerikan itu, masih dengan posisi setengah menyembah.

Dan aku baru menyadari bahwa makhluk mengerikan yang sekarang sedang berdiri di depan kami itu adalah NYI RATU KASTOBA. Dia adalah Ratu penguasa Bawean yang konon memiliki pohon Kastoba, yang akhirnya pohon Katsoba itu sekarang telah menjadi tumpukan karang di sebelah timur pulau Gili Timur karna telah di cabut dan di buang ke sebelah timur pulau Bawean oleh Ratu itu, dan bekas dari cabutan itu sekarang telah menjadi telaga dan masyarakat bawean menamainya dengan TALAGHE KASTOBA.


pantas saja Amal waktu itu tidak berhasil menerawang foto tanah yang dikirimkan Pak Sarkawi itu, walaupun dengan mengerahkan seluruh energi dan ilmu yang ia punya. Wong lawannya sesosok makhluk gaib yang sudah sangat melegenda dan punya nama besar, yang konon terkenal dengan segalah kengeriannya itu!

“AKU TAK PERDULI!!! KALIAN SUDAH MENGGANGGUKU DAN SUDAH MEMBUAT KESALAHAN YANG BEGITU BESAR!, SEKARANG KALIAN HARUS MATI SEMUA!!!” Bentaknya lagi.

Lalu tanpa diduga, ekornya yang panjang dan besar itu serta merta mengibas kencang menyepak ke arah kami. Kontan saja orang-orang yang sedang berdiri tepat di depannya, Pak Sarkawi, para Bodyguard, Amal dan Kakeknya berpelantingan tersepak ke arah batang-batang pohon disekitarnya. Beruntung posisi aku dan Zain saat itu jauh dari tempat mereka berada, sehingga tak terkena sebetan ekor NYI RATU KASTOBA itu. Aku lihat mereka semua banyak yang sedang meregang nyawa akibat dari lemparan serta menabrak batang-batang pohon dengan begitu kencang dan begitu kerasnya. Beberapa dari mereka pecah kepalanya, termasuk Amal dan Kakeknya. Sedangkan Pak Sarkawi masih meregang nyawa mengerang-ngerang bergulingan di tanah menahan sakit, Tiba-tiba makhluk itu pun mencekik lehernya dan mengangkatnya ke atas. Lalu diambilnya Tongkat Trisula miliknya yang tergeletak di tanah dan langsung dihukjamkan berkali-kali ke perut  Pak Sarkawi sambil tertawa kencang terkekeh-kekeh, yang mengakibatkan Pak Sarkawi tewas seketika di tangannaya, lalu melempar mayatnya ke tanah, meninggalkan suara bergedebukan.

Setelah berhasil merenggut nyawa Pak Sarkawi, makhluk mengerikan itu mulai bergerak kembali dan mendatangi beberapa sisa Bodyguard Pak Sarkawi yang masih sekarat itu untuk di bunuhnya satu per satu. Lalu membuang mayat mereka semua termasuk mayat Amal dan Kakeknya ke dalam telaga. Kesempatan itu pun tidak kami sia-siakan!!! Aku dan Zain langsung lari sekencang-kencangnya yang kami bisa untuk turun dari gunung ini, menuju kearah motor kami berada, sebelum makhluk mengerikan itu menyadari kepergian kami dan mengejarnya. Karna kami berlari sangat cepat tanpa berhenti sedikitpun, hanya kurang dari sepuluh menit kami sudah sampai di tempat motor kami terparkir. Lalu dengan terpongoh-pongoh dan dengan nafas ngos-ngosan, aku merongoh kunci motor di dalam saku celana ku dan segera naik ke motor. Stater ku hidupkan ku masukkan gear satu dan langsung ku tancap gas tanpa ragu-ragu, menelusuri jalan tanah kecil untuk keluar dari areal perkebunan jati itu tak lama akhirnya motor kami pun sampai dan ke luar menuju jalan raya setelah ku belokkan dengan kasaranya tanpa ku injak rem sedikit pun, yang hampir saja membuat motor kami seakan mau terbalik. Beruntung jalan raya itu masih gelap dan sepi.
“DBARRRRRRRRRRRRRRRRRRR, WHERRRRRRRRRRRRRRRRRR!!!”

Kami kembali tersentak ketika mendengar suara pohon roboh dan tanah amblas di belakang kami, ternyata makhluk mengerikan itu masih mengejar kami dan akhirnya menabrak pohon sana-sini, akibat dari pohon yang di tabraknya, banyak pohon-pohon besar yang roboh dan tanah pun mulai longsor karna tidak ada penahannya lagi dan akhirnya mengakibatkan rumah-rumah penduduk hancur lebur.

“NGENNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNN!!!” Kami pun tak mau kalah dengan kecepatan makhluk itu, kembali ku tarik gas poll dan akhirnya kami sampai di sebuah masjid “AL MU’MIN”, yang mana mahluk mengerikan itu tidak berani mendekatinya. Kami pun langsung turun dari atas motor dan sepontan masuk kedalam masjid itu tanpa memikirkan kaki kami yang sangat kotor akibat berlari tadi, kami pun langsung bersilah berdo’a memohon perlindungan dari Allah, Usai berdo’a  kami pun bersembunyi di balik Mimbar dalam masjid itu. Di belakang Mimbar kulihat Zain menangis terisak-isak, karna Amal teman karib kami itu telah tewas secara mengenaskan. Beberapa kali ku lihat ia memukul-mukul pahanya sambil sesekali menutup wajah dengan tangannya. Sedangkan aku sambil membaca Amalan yang aku punya, merasa sangat bingung dan kalut memikirkan bagaimana nasib kami berdua kedepannya setelah kejadian barusan.

“Bagaimana jika besok orang Tuanya Amal datang kerumahku dan menanyakan keberadaan Amal? Karna yang mereka tahu, Amal terakhir kali pergi denganku dan Zain, lalu bagaimana jika besok atau lusa ada Polisi yang datang kerumahku dan mengintrograsiku? Karena telah ditemukan mayat-mayat di danau Kastoba dan ada mayat Amal serta Kakeknya juga di sana? atau bagaimana jika nanti atau besok malam RATU KASTOBA datang kerumahku dan membunuhku?!” Kepalaku tak henti-hentinya memikirkan segala kemungkinan yang bisa terjadi. “Ahhhhh... bukanya untung, malah buntung...” Lirihku dalam hati sambil menatap kosong kearah Zain.

TAMAT


BIODATA SINGKAT PENULIS

Misfar Andika
Misfar Andika













Nama             : Misfar Andika

Alamat           : Kebon teluk dalam 

Motto Hidup  : Tirulah seseorang yang kau anggap hebat, karna kau akan lebih hebat darinya.


24 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  5. Akhirnya tau juga cerita tentang danau kastoba

    BalasHapus
  6. Owh ternyata begitu ceritanya tentang danau kastoba tentang si ratu ular yang besar.
    Sangat mengerikan juga ceritanya 😱.

    Amanina

    BalasHapus
  7. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  8. Ceritanya sangat menarik dan sangat bagus untuk di baca oleh banyak orang. karena di dalam cerita tersebut bukan hanya mengandung cerita mistis saja, tapi juga mengandung sesuatu yang di miliki orang lain yg seharusnya tdk di ambil atau di pergunakan secara sembarangan ataupun di curi. Maka dari itu pengajaran dari cerita tersebut sangat bagus untuk kota jadikan sebagai motivasi, bahwasanya kita tdk boleh mengambil sesuatu milik orang lain / yg bukan milik kita sendiri☺


    Akmila efendi⭐

    BalasHapus
  9. ternyata cerita akhir dari danau kastoba itu sangat mengerikan atau menyeramkan

    Desi Nurhidayat

    BalasHapus
  10. Bagus ceritanya,mengerikan jika dibaca dimalam hari..tapi juga penasaran ingin tau lebih jelasnya

    #selly maulidiyah

    BalasHapus
  11. Critanya bgus&menarik
    Bsa dijadikan motivasi bgi kta,,dan 1 yg terpnting dri crta diaatas,jngan mengambil sesuatu yg bukan milik kita sndiri.

    Anggini Pratiwi

    BalasHapus
  12. Ceritanya sangat mengerikan
    Tpi menarik juga untuk di baca

    #sri wahyu ningsih

    BalasHapus
  13. Cerita yang asik saya sangat suka dan saya akan menantikan cerita selanjutnya atau cerita tentang Bawean yang lainnya

    BalasHapus
  14. ceritanya asik dan menarik, tapi ada mistisnya juga

    BalasHapus
  15. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  16. Ceritanya bagus,bikin merinding,tapi kurang suka karna ceritanya langsung keintinya.

    BalasHapus
  17. Kritik ataupun sarannya private aja yahhh😁🙏

    BalasHapus

Gunakan bahasa yang baik dan sopan. Agar pesan yang ingin disampaikan, bisa diterima dengan baik.
EmoticonEmoticon