“Energinya sangat kuat!
penerawanganku tidak bisa melihat pusaka itu dan juga siapa penunggunya.” Amal
menjelaskan penerawangannya. “Aku coba ngerahin seluruh kekuatan dan
energi yang aku punya, tapi yang aku lihat hanya sebatas bayang-bayang kabut,
seakan terhalangi oleh sebuah tabir yang sangat kuat.” Tutur Amal setelah
selesai penerawangannya. Aku kembali mencoba menjelaskan dan memberi
saran padanya. “Mal, kalau memang sekiranya kita merasa tidak sanggup, lebih baik
jangan dipaksakan, demi keamanan kita semua.” Ujarku menasehati
Amal. “Lepasin sajalah... anggap saja ini bukan rezeki kita, dari
pada terjadi apa-apa sama kita? dan mumpung Pak Sarkawi juga belum ngirim
uangnya sama kita.” Lanjutku lagi. “Gimana Bray, bener gak?” tanyaku kepada
Zain dan Amal. Tapi Amal menolak mentah-mentah semua saran yang
kuberikan, sedangkan Zain Cuma diam saja.
“Tapi Dik, uang sebesar itu kapan lagi bisa kita dapatkan?” Amal benar-benar tergiur dengan tawaran Pak Sarkawi. “Kan kamu tahu sendiri, paling besar orderan kita berapa duit saja sih? Cuma Sepuluh Juta! Itu pun jarang-jarang kita dapat orderan yang segitu.” Amal sedikit membentak untuk meyakinkanku.
“Selama ini dan sampai detik ini, aku gak pernah gagal dalam menarik pusaka. Mau raja jin atau setan dedemit kayak gimana juga bisa aku hadapin dan bahkan ku taklukin, baik secara tempur atau barter. Aku yakin kita pasti mampu Dik. Pokoknya kamu tenang saja, kita pasti bisa” Amal optimis dengan kemampuannya.
Karna Terus menerus nyerocos tanpa henti tentang ke optimisannya, Ia terlihat seperti mengedepankan egonya saja. Ditambah lagi dia bilang, dengan bahan-bahan ritual yang lengkap dan dengan nomor wahid(satu) yang nantinya akan kita gunakan, jauh kemungkinannya dari kata gagal. Intinya Amal tidak ingin mundur dan tetap menerima job kakap ini. “Ya sudah kita nurut aja...” Aku dan Zain hanya bisa mengikuti kemauannya. “Mau bagaimana lagi, Wong dianya yang punya perhitungan dan kemampuan”. Batinku bergumam.
Beberapa hari kemudian!
Diterik siang Aku, Zain, dan Amal
sudah berkeliling belanja bahan-bahan untuk keperluan ritual tarik pusaka nanti
malam menggunakan dua motor operasional kami. Uang sebesar dua juta pun sudah
kami tarik di ATM dan sudah hampir habis kami belanjakan. Tinggal sisa untuk
beli bensin motor-motor kami saja. sedangkan uang bonus sebesar dua puluh lima
juta pemberian dari Pak Sarkawi tetap masih utuh di saldo rekening kami, tidak
kami ambil. Pantang bagi kami untuk memakainya selama tugas belum selesai,
walaupun itu uang pemberian secara Cuma-cuma, bukan termasuk uang jasa kerja.
Selesai belanja, Amal pun memintaku
untuk langsung mengemudikan motor menuju arah Paromaan, rumah Kakeknya. Lalu
tak ku sangka bahwa Kakeknya Amal ingin ikut dan membatu kami untuk menarik
pusaka nanti malam dan menyelesaikan tugas besar ini. Ada sedikit rasa tenang
yang menyelimuti hatiku sekarang, karena akhirnya ada sebuah bala bantuan yang
kami dapat, yaitu dari Kakeknya Amal yang notabenenya adalah seorang paranormal
ternama dan tentunya lebih hebat dari Amal, cucunya.
Dari paromaan kami langsung tancap
gas kearah barat menuju Dusun Candi, karena lokasi yang ditentukan berada
disana. Tapi bukan pada dusunnya, melaikan Telaga yang ada diatas gunung, yaitu
sebuah Danau yang kata Pak Sarkawi adalah “Danau Kastoba”, dan Pak Sarkawi
telah menunggu di jalan menuju Telaga. Dari jalan raya kami pun berbelok ke
sebuah jalan kecil yang belum di aspal, dan terus mengikuti jalan tanah
tersebut yang kanan kirinya diapit oleh pohon-pohon jati yang tinggi dan besar.
dari jauh lampu motor kami menyorotkan sinarnya ke beberapa motor gunung yang
sudah terparkir didepan sana.
Ternyata motor-motor itu milik Pak
Sarkawi dan para Bodyguarnya yang jumlahnya hampir sepuluh orang dan mengenakan
setelan safari hitam-hitam. Setelah sampai tujuan dan ku parkirkan motor tidak
jauh disamping motor Amal, Segera kami pun turun dari atas motor. Pak Sarkawi
langsung mendatangi dan menyapa kami hangat. Tanpa banyak basa-basi Pak Sarkawi
segera mengajak kami semua untuk langsung mengikuti dia, naik keatas gunung
dengan berjalan kaki dengan meninggalkan motor kita semua di pinggir jalan
perkebunan itu. Dengan dibantu beberapa Bodyguard-nya, kami membawa segala
peralatan dan bahan ritual dari dalam jok motor kami. Sebagian Bodyguard menerangi
jalan kami dengan lampu senter di tangannya.
Pak Sarkawi berjalan paling depan
ditemani Kakeknya Amal sambil bercakap-cakap. Setengah jam mendaki akhirnya
sampai juga kami di lokasi penarikan pusaka yang tanahnya agak lapang, dan
terlihat pula telaga yang jernih mementalkan cahaya rembulan menerangi malam
kami. Jam ku lihat sudah menunjukkan pukul 00:05 Wib dini hari. Berarti
penarikan pusaka bisa langsung dilaksanakan. Lalu kami bertiga pun segera
memasang alat-alat dan bahan ritual. Sebuah kain mori putih besar berbentuk
segi empat mulai dibentangkan di depan kami, di ujung empat sisi kain itu
ditancapkan dupa yang telah ditempeli madat nomor wahid.
Lalu di sebelah depan kain mori itu
ditaruh satu buah kelapa hijau yang sudah kami kupas ujung-ujungnya. Persiapan
pun sudah siap!!! Lampu-lampu senter pun dimatikan semua. Dupa yang telah
ditempeli madat pun segera dibakar. Tak lama kemudian semerbak aroma harum
menyengat dari dupa dan madat pun mulai tercium santer, menambah suasana mistis
di tempat kami berada. Aku dan Zain segera mundur ke belakang, sejajar dengan
Pak Sarkawi dan para Bodyguardnya. Hingga hanya tinggal Amal dan Kakeknya yang
berada paling depan, di belakang altar kain mori tersebut. Kakeknya Amal segera
mengeluarkan bungkusan kain berwarna hitam yang tadi diberikan oleh Pak Sarkawi
kepadanya, sewaktu berjalan mendaki gunung ini, yang ternyata bungkusan itu
berisi segumpal tanah berwarna coklat kehitaman dan segera menaburkannya di
atas kain mori putih tersebut, di ikuti oleh taburan kembang tujuh rupa, dan
terakhir disiram oleh minyak-minyak khusus ritual yang kami bawa. Selanjutnya
Amal dan Kakeknya langsung memotong leher sepasang ayam cemani di atas kain
mori itu. Sehingga telihat darah-darah berwarna hitam pekat berceceran mengguyur
tumpukan tanah dan kembang diatas kain mori itu. Tak lama kemudian
bangkai-bangkai ayam cemani itu dilemparkan jauh-jauh kedalam air telaga oleh
mereka berdua. Lalu mereka berdua pun duduk bersila dengan tangan bersidekap di
depan dada mirip orang yang sedang bertapa. Duduk hening dan diam.
Sudah hampir satu jam. Posisi mereka
berdua pun sudah mulai berubah. Amal tetap duduk bersilah dan bersidekap sambil
sesekali tangannya bergerak maju mundur seperti orang yang sedang menarik
sesuatu. Sedangkan Kakeknya sudah dalam posisi berdiri dan bergerak ke sana ke
mari seperti orang yang sedang silat dan selalu di akhiri dengan gerakan tangan
seperti menarik sesuatu pula, sama dengan yang dilakukan Amal. Satu jam pun
sudah berlalu, tiba-tiba Amal dan Kakeknya mengeluarkan gerakan yang sama dan
seirama secara bebarengan, yaitu sama menggerebak tanah di bawahnya. Amal
menggunakan tangannya sedangkan Kakeknya menggunakan satu kakinya. Lalu mereka
berdua mengusap muka mereka masing-masing dengan tangannya. Amal pun bangkit
berdiri, lalu mereka berdua berjalan ke belakang mendekati kami semua.
“Tunggu saja... sebentar lagi keluar.
Kita lihat saja!” ujar Kakeknya Amal kepada Pak Sarkawi.
Suasana hening beberapa saat, hingga
tiba-tiba...
Kami dikejutkan oleh sebuah ledakan
yang cukup besar seperti suara petir menggelegar dari tengah danau, di iringi
dengan percikan air yang juga sangat besar menyertainya. Bebarengan dengan
suara ledakan itu, keluar pula sebuah benda yang besar dan panjang serta merah
menyala yang meluncur dengan cepat kearah kami, dan menancap di tengah-tengah
altar kain mori itu. Sehingga karuan saja tumpukan tanah dan kembang yang
berada di atasnya juga kelapa hijau di depannya berhamburan tak tentu arah.
Terlihat dari jauh tempat kami
berada, benda besar dan panjang yang menancap itu masih menyalah merah dan
mengepulkan asap tipis, pertanda masih panas membara akibat dari gesekan antar
Dimensi. Kami pun belum berani mendekatinya. Setelah beberapa saat kemudian,
warna yang tadinya merah menyalah, perlahan-lahan mulai meredup dan berubah
menjadi warna kekuning-kuningan disertai mengkilap karena pantulan cahaya
rembulan. Segera Amal dan Kakeknya berjalan pelan mendekati benda yang menancap
di tanah itu, diikuti Pak Sarkawi beserta para Bodyguardnya dibelakang.
Sedangkan aku dan Zain tetap diam ditempat, dan melihat dari kejauhan saja.
Dengan susah payah, Amal dan Kakeknya
berusaha untuk mencabut benda itu dari tanah, dan... brekkk.. srekkk... pusaka
itu akhirnya tercabut juga dari tanah, yang segera diangkat dan dibopong oleh
mereka berdua dan diserahkan pada Pak Sarkawi dan sebagian dipegangi oleh
Bodyguardnya.
Ternyata benda pusaka itu adalah
sejenis tongkat trisula bermata tiga yang mugkin terbuat dari emas,
karena warnanya begitu kuning dan berkilauan walau hanya dengan cahaya bulan,
apalagi terkena sorotan lampu senter. Melihat ukuran panjang dan besarnya, aku
memikirkan beratnya bisa mencapai dua puluh kiloan. Dan jika memang benar
pusaka itu terbuat dari emas, maka bila dijual bisa jadi uang puluhan milyar!
Waow! Pantas saja beliau berani membayar kami segitu. Wong dianya bisa dapat
untung berpuluh-puluh kali lipat.
“Hmmm... licik juga . Menang banyak
dia...” gumanku sinis dalam hati.
“HEBAT HEBAT!!! Kalian memang
HEBAT!!! Tidak sia-sia saya meminta jasa dari dan kemampuan kalian, wkwkwk...”
Pak Sarkawi memuji. “Lain kali, saya akan mengguanakan jasa kalian lagi yah?
Wkwkwk” Timpalnya lagi. Sementara Amal dan Kakeknya hanya bisa senyum-senyum
karna di puji seperti itu.
“Nah, oke... sekarang tinggal bagian
saya yang akan menepati janji saya pada kalian! Ayo... Mari kita langsung
pulang dan langsung menuju rumah saya. Saya akan membuatkan chack tunai sebesar
Satu Milyar Rupiah yang saya janjikan pada kalian, beserta surat kuasa untuk
pencairannya ke bank, Mari!” Ajaknya kepada kami sambil masih menimbang-nimbang
dan mengelus Tongkat Trisula berwarna emas itu yang sebagian gagangnya dipegang
oleh Bodyguardnya. Aku dan Zain pun gembira sekali mendengarnya, karena
sebentar lagi kami akan mendapat uang Satu Milyar Rupiah. “Waow... mimpi apa
aku semalam?” Celotehku dalam hati. Baru saja kami berbalik badan dan ingin
melangkah pergi dari dalam telaga itu, tiba-tiba!
WHRSSSSSHHH!!!
Segulung angin yang begitu kencang
datang dari belakang, saking kencangnya angin itu, membuat kami jadi
sempoyongan dan mencoba untuk terus mempertahankan keseimbangan. Setelah angin
kencang itu berhenti, tampak dari arah kejauhan di tengah danau itu, terlihat
dua titik sinar merah dikegelapan yang makin lama makin bertambah dekat
diiringi suara gemuruh berisik air meluap. Kami pun panik, tapi seperti
terpaku seakan penasaran apa sebenarnya gerangan yang mendatangi
kami itu.
Hingga tak lama kemudian terlihatlah
sosok yang medatangi kami, tepat didepan kami berada saat ini sedang berdiri
sosok perempuan berbadan ular raksasa yang menjulang tinggi hampir sepuluh
meter. Bermata merah menyala seakan menatap dengan penuh amarah kepada kami.
Terlihat pula sepasang taring di sela-sela bibirnya dan sosok perempuan
berbadan ular itu juga mengenakan sebuah mahkota diatas kepalanya. Rambut yang
panjang terurai kedepan menutupi bagian dadanya.
“DASAR PENCURI KALIAN! KEMBALIKAN
TONGKATKU!!!” bentaknya kepada kami sambil menunjukkan kami semua dengan
tangannya yang berkuku runcing tajam dan diiringi suara mendesis, khas suara
Ular. Tiba-tiba Kakeknya Amal pun berlutut dan bersimpuh di depan siluman itu.
“Ampun NYI RATU.... kami tidak tahu kalau tongkat itu kepunyaan RATU...”
Lirihnya “kami hanya disuruh oleh orang-orang ini!” Lirihnya lagi seraya
menunjuk pada Pak Sarkawi dan para Bodyguarnya. “Sekali lagi, kami mohon ampun
RATU.” Pintanya memohon belas kasihan kepada sosok perempuan mengerikan itu,
masih dengan posisi setengah menyembah.
Dan aku baru menyadari bahwa makhluk
mengerikan yang sekarang sedang berdiri di depan kami itu adalah NYI RATU
KASTOBA. Dia adalah Ratu penguasa Bawean yang konon memiliki pohon Kastoba,
yang akhirnya pohon Katsoba itu sekarang telah menjadi tumpukan karang di
sebelah timur pulau Gili Timur karna telah di cabut dan di buang ke sebelah
timur pulau Bawean oleh Ratu itu, dan bekas dari cabutan itu sekarang telah
menjadi telaga dan masyarakat bawean menamainya dengan TALAGHE KASTOBA.
“AKU TAK PERDULI!!! KALIAN SUDAH
MENGGANGGUKU DAN SUDAH MEMBUAT KESALAHAN YANG BEGITU BESAR!, SEKARANG KALIAN
HARUS MATI SEMUA!!!” Bentaknya lagi.
Lalu tanpa diduga, ekornya yang
panjang dan besar itu serta merta mengibas kencang menyepak ke arah kami.
Kontan saja orang-orang yang sedang berdiri tepat di depannya, Pak Sarkawi,
para Bodyguard, Amal dan Kakeknya berpelantingan tersepak ke arah batang-batang
pohon disekitarnya. Beruntung posisi aku dan Zain saat itu jauh dari tempat
mereka berada, sehingga tak terkena sebetan ekor NYI RATU KASTOBA itu. Aku
lihat mereka semua banyak yang sedang meregang nyawa akibat dari lemparan serta
menabrak batang-batang pohon dengan begitu kencang dan begitu kerasnya.
Beberapa dari mereka pecah kepalanya, termasuk Amal dan Kakeknya. Sedangkan Pak
Sarkawi masih meregang nyawa mengerang-ngerang bergulingan di tanah menahan
sakit, Tiba-tiba makhluk itu pun mencekik lehernya dan mengangkatnya ke atas.
Lalu diambilnya Tongkat Trisula miliknya yang tergeletak di tanah dan langsung
dihukjamkan berkali-kali ke perut Pak Sarkawi sambil tertawa kencang
terkekeh-kekeh, yang mengakibatkan Pak Sarkawi tewas seketika di tangannaya,
lalu melempar mayatnya ke tanah, meninggalkan suara bergedebukan.
Kami kembali tersentak ketika
mendengar suara pohon roboh dan tanah amblas di belakang kami, ternyata makhluk
mengerikan itu masih mengejar kami dan akhirnya menabrak pohon sana-sini,
akibat dari pohon yang di tabraknya, banyak pohon-pohon besar yang roboh dan
tanah pun mulai longsor karna tidak ada penahannya lagi dan akhirnya
mengakibatkan rumah-rumah penduduk hancur lebur.
“NGENNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNN!!!”
Kami pun tak mau kalah dengan kecepatan makhluk itu, kembali ku tarik gas poll
dan akhirnya kami sampai di sebuah masjid “AL MU’MIN”, yang mana mahluk
mengerikan itu tidak berani mendekatinya. Kami pun langsung turun dari atas
motor dan sepontan masuk kedalam masjid itu tanpa memikirkan kaki kami yang
sangat kotor akibat berlari tadi, kami pun langsung bersilah berdo’a memohon
perlindungan dari Allah, Usai berdo’a kami pun bersembunyi di balik
Mimbar dalam masjid itu. Di belakang Mimbar kulihat Zain menangis terisak-isak,
karna Amal teman karib kami itu telah tewas secara mengenaskan. Beberapa kali
ku lihat ia memukul-mukul pahanya sambil sesekali menutup wajah dengan
tangannya. Sedangkan aku sambil membaca Amalan yang aku punya, merasa sangat
bingung dan kalut memikirkan bagaimana nasib kami berdua kedepannya setelah
kejadian barusan.
“Bagaimana jika besok orang Tuanya Amal datang kerumahku dan menanyakan keberadaan Amal? Karna yang mereka tahu, Amal terakhir kali pergi denganku dan Zain, lalu bagaimana jika besok atau lusa ada Polisi yang datang kerumahku dan mengintrograsiku? Karena telah ditemukan mayat-mayat di danau Kastoba dan ada mayat Amal serta Kakeknya juga di sana? atau bagaimana jika nanti atau besok malam RATU KASTOBA datang kerumahku dan membunuhku?!” Kepalaku tak henti-hentinya memikirkan segala kemungkinan yang bisa terjadi. “Ahhhhh... bukanya untung, malah buntung...” Lirihku dalam hati sambil menatap kosong kearah Zain.
TAMAT
BIODATA SINGKAT PENULIS
![]() |
| Misfar Andika |
Nama : Misfar Andika
Alamat : Kebon teluk dalam
Motto Hidup : Tirulah seseorang yang kau anggap hebat, karna kau akan lebih hebat darinya.


Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusWidihh ngerri dengernya
BalasHapusAssalamu'alaikum
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusAkhirnya tau juga cerita tentang danau kastoba
BalasHapusOwh ternyata begitu ceritanya tentang danau kastoba tentang si ratu ular yang besar.
BalasHapusSangat mengerikan juga ceritanya 😱.
Amanina
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusCeritanya sangat menarik dan sangat bagus untuk di baca oleh banyak orang. karena di dalam cerita tersebut bukan hanya mengandung cerita mistis saja, tapi juga mengandung sesuatu yang di miliki orang lain yg seharusnya tdk di ambil atau di pergunakan secara sembarangan ataupun di curi. Maka dari itu pengajaran dari cerita tersebut sangat bagus untuk kota jadikan sebagai motivasi, bahwasanya kita tdk boleh mengambil sesuatu milik orang lain / yg bukan milik kita sendiri☺
BalasHapusAkmila efendi⭐
ternyata cerita akhir dari danau kastoba itu sangat mengerikan atau menyeramkan
BalasHapusDesi Nurhidayat
Bagus ceritanya,mengerikan jika dibaca dimalam hari..tapi juga penasaran ingin tau lebih jelasnya
BalasHapus#selly maulidiyah
Critanya bgus&menarik
BalasHapusBsa dijadikan motivasi bgi kta,,dan 1 yg terpnting dri crta diaatas,jngan mengambil sesuatu yg bukan milik kita sndiri.
Anggini Pratiwi
Ceritanya sangat mengerikan
BalasHapusTpi menarik juga untuk di baca
#sri wahyu ningsih
Ceritanya bagus
BalasHapusCerita yang asik saya sangat suka dan saya akan menantikan cerita selanjutnya atau cerita tentang Bawean yang lainnya
BalasHapusceritanya asik dan menarik, tapi ada mistisnya juga
BalasHapusMantap
BalasHapusMenarik👌
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusceritanya asik!!!😁
BalasHapusCeritanya bagus,bikin merinding,tapi kurang suka karna ceritanya langsung keintinya.
BalasHapusKritik ataupun sarannya private aja yahhh😁🙏
BalasHapushororr bree😁
BalasHapus